Minggu, 28 Juni 2015

kumpulan tulisan DAHLAN ISKAN Mestinya Too Big to Fail

Mestinya Too Big to Fail

22/06/15, 05:00 WIB
Mantan CEO Jawa Pos
SAYA hanya bisa mendengarkan dengan sungguh-sungguh ketika banyak pengusaha mengeluhkan lesunya ekonomi saat ini. ”Sangat lesu,” kata mereka.
”Jauh dari yang dulu kami bayangkan,” tambah mereka. Ada yang omzetnya turun sampai 40 persen. Banyak yang sudah melakukan PHK.
Tidak menyangka, begitu saya kembali dari sekolah di Amerika Serikat selama tiga bulan, saya harus menghadapi banyak pertanyaan dari para pengusaha seperti itu.
Tiba-tiba saya merasa bersalah ketika saya tidak bisa menjawab pertanyaan mereka. Misalnya: Sampai kapan kelesuan ekonomi ini akan berlangsung? Saya juga belum siap untuk menjawab pertanyaan ini: Masih akan lebih lesu atau akan tetap lesu atau kelesuan ini akan segera berakhir?
Jawaban saya satu-satunya adalah: Coba saya pikirnya dulu. Sudah tiga bulan saya tidak mengikuti perkembangan apa pun. Selama di Amerika, saya benar-benar puasa berita. Tidak mengikuti perkembangan di dalam negeri. Jawa Pos pun (online) tidak saya buka. Saya terus belajar dan belajar. Dan membaca buku. Sampai 16 buku saya lahap dalam tiga bulan. Sayang, tidak satu pun tentang ekonomi.
Membaca kelesuan ekonomi itu harus kita sikapi sebagai membaca huruf. Kelesuan itu kita ibaratkan garis yang menurun. Seperti memulai menulis huruf ”I”. Kalau masih terus menurun, berarti ”I”-nya masih akan panjang. Kalau kelesuan itu sudah sampai tahap paling lesu, garis itu berhenti.
Tidak bisa lebih lesu lagi. Lebih dari itu berarti mati.
Panjang-pendeknya ”I” bergantung lama atau sebentarnya masa kelesuan itu. Setelah kelesuan mencapai dasarnya, kemungkinan garis itu hanya satu: berbelok ke samping. Dari huruf ”I” menjadi huruf ”L”. Tetap lesu, tapi tidak akan lebih lesu lagi. Apakah ”L”-nya akan pendek atau akan menjadi ”L” panjang, tentu bergantung yang memegang pena.
Pola ”L” yang pendek tentu bisa kita terima. Tidak mungkin dari turun langsung bisa naik. Harus melalui masa-masa mendatar dulu. Tapi, kalau ”L”-nya terlalu panjang, kematianlah yang akan dihadapi.
Kita tentu mengharapkan pola ”L” itu segera berubah menjadi ”U”. Berarti segera sembuh dari kelesuan. Lantas, segera bangkit lagi ke atas. Pemegang pena harus berusaha keras menarik pena itu untuk membuat huruf ”U”, bahkan sejak ketika huruf ”I” sedang terjadi.
Ini tidak mudah. Persyaratannya banyak.....BACA SELENGKAPNYA DI JAWA POS

Kumpulan tulisan DAHLAN ISKAN

 

Padepokan Listrik untuk Anak Muda Spartan

29/06/15, 05:00 WIB
Mantan CEO Jawa Pos
AKHIRNYA saya temukan ”tempat persembunyian” Ricky Elson di pantai Samudra Hindia di Tasikmalaya paling selatan. Hari sudah senja, Kamis lalu. Sekitar 15 mahasiswa lagi duduk lesehan di atas tikar: berbuka puasa.
Senja itu langit sangat cerah. Setelah meneguk air dan minum obat, saya menuju pantai yang ombaknya berdebur. Mumpung belum gelap. Dan lagi saya memang baru boleh makan satu jam setelah minum obat.
Inilah lokasi riset dan pendidikan yang dipimpin Ricky Elson. Dia mengajarkan kepada anak muda tentang motor listrik untuk mobil listrik dan tentang pembangkit listrik tenaga angin. Nama desanya: Ciheras. Untuk ke sana harus naik mobil dulu ke Tasikmalaya, lalu tiga jam lagi ke Ciheras.
Melihat lokasi ini, saya lebih menyebutnya pondok. Atau lokasi kamping. Tanahnya dibiarkan natural tanpa polesan apa pun. Lokasi sekitarnya berupa galian bekas tambang pasir besi yang sudah habis dikuras dua tahun lalu. Ada beberapa bangunan di ”perkampingan” ini. Semuanya berukuran kecil. Terbuat dari kayu. Atau tripleks. Lantainya semen. Tidak ada meja kursi. Semua bangunan itu seperti amat darurat. Semua RSS.
Tempat lesehan untuk berbuka puasa itu misalnya, kalau siang dipakai praktik pengajaran. Bangunan sebelahnya adalah petak-petak untuk tidur mahasiswa. Sebelahnya lagi bangunan untuk buku-buku listrik, separo dari buku itu berbahasa Jepang. Ricky memang sekolah dan bekerja di Jepang selama 14 tahun. Di Negeri Sakura itulah dia melahirkan 12 penemuan bidang motor listrik dan mematenkannya.
Bangunan di sebelahnya lagi berupa gubuk-gubuk gazebo kayu. Untuk diskusi. Lalu ada bangunan untuk kontrol sistem. Di tengah-tengahnya ada bangunan musala. Ricky sendiri, yang rambut ikalnya dibiarkan panjang dan celananya selalu berkantong-kantong besar, yang jadi imam. Bacaan salatnya lirih, merdu, dan sangat fasih.
”Cita-cita saya mendidik 3.000 anak muda yang mampu mendukung pengembangan mobil listrik di Indonesia,” ujarnya. ”Sekaligus mampu mengembangkan listrik tenaga angin,” tambahnya.
Ricky yang tiga tahun lalu saya minta pulang untuk mengembangkan mobil listrik nasional bertekad menyiapkan fondasi yang kuat: aspek manusianya. Mobil listrik yang dia ciptakan selama ini (bersama Kupu-Kupu Malam Jogja) adalah prototipe untuk gebrakan awal. Bahwa kita bisa. Setelah itu harus ditata manusianya. Untuk bisa berproduksi secara masal.
Mahasiswa dan anak muda yang mondok di tempat Ricky ini umumnya khas: mereka yang minat risetnya tinggi, egaliter, dan jiwanya menyala-nyala. Gadis yang duduk lesehan di sebelah saya ini misalnya, lulusan S-1 dan S-2 ITB. Bapaknya dosen. Ibunya dokter di Bandung. Para pemudi itulah, bersama istri Ricky yang cantik itu, yang menyiapkan makanan untuk berbuka dan sahur.
Yang lebih banyak adalah mahasiswa kuliah praktik. Dari berbagai universitas. Ricky sendiri sudah berkunjung atau memberi kuliah di 150 universitas selama tiga tahun terakhir. Untuk menumbuhkan minat anak muda di dunia baru ini.
Malam itu Ricky juga yang menjadi imam salat Tarawih.BACA SELENGKAPNYA DI  JAWA POS